Apa itu Tailing?
Tailings adalah limbah hasil proses ekstraksi di industri pertambangan seperti aluminium, batu bara, oil sands, uranium, serta logam mulia dan base metals. Berbeda dengan waste rock atau overburden, tailings merupakan material residu yang telah melalui proses benefisiasi untuk memisahkan mineral berharga dari bijih. Tailings biasanya terdiri dari crushed rock, air, trace metals, serta residu bahan kimia seperti sulfuric acid atau cyanide yang digunakan dalam proses ekstraksi. Pembentukan tailings melibatkan tahapan crushing, grinding, dan chemical separation, menghasilkan volume limbah signifikan yang memerlukan pengelolaan dan penyimpanan sesuai standar untuk mengurangi dampak lingkungan. Memahami karakteristik tailings serta penerapan solusi pengelolaan yang bertanggung jawab menjadi elemen kunci dalam mendukung keberlanjutan operasional pertambangan.
Apa Bahaya dari Tailings?
Tailings dari kegiatan pertambangan membawa risiko lingkungan yang signifikan dan membutuhkan pengelolaan yang cermat untuk mencegah kerusakan ekologis jangka panjang. Bahaya ini berasal dari berbagai sumber, termasuk pencemaran air, degradasi tanah, polusi udara, dan kegagalan fatal pada tailings dam.

Pencemaran Air
Salah satu dampak lingkungan paling serius dari tailings tambang adalah pencemaran air. Tailings sering mengandung logam berat seperti arsenik, timbal, dan merkuri yang dapat meresap ke badan air di sekitarnya. Proses pelindian ini mengganggu kehidupan akuatik, mencemari sumber air minum, dan menimbulkan risiko kesehatan yang berat bagi manusia serta satwa liar. Keberadaan logam beracun dalam air dapat menyebabkan bioakumulasi pada ikan dan organisme akuatik lainnya, membuatnya tidak aman untuk dikonsumsi serta merusak seluruh ekosistem perairan.
Pencemaran Tanah
Tailings tambang juga menyebabkan pencemaran tanah yang berdampak besar pada pertanian dan vegetasi alami. Kandungan zat beracun dalam tailings dapat menyebabkan fitotoksisitas, di mana tanaman menyerap bahan kimia berbahaya, yang mengakibatkan pertumbuhan terhambat, penurunan hasil panen, bahkan kematian tanaman. Tanah yang terkontaminasi dapat menjadi tidak subur, menciptakan tantangan jangka panjang bagi produksi pangan dan kesehatan ekosistem.
Polusi Udara
Debu yang dihasilkan dari tailings kering merupakan sumber utama polusi udara. Debu tailings ini dapat mengandung partikel berbahaya dan zat beracun yang, jika terhirup, dapat menyebabkan masalah pernapasan dan gangguan kesehatan lainnya bagi komunitas sekitar. Debu ini juga dapat menyebar jauh, membawa kontaminan ke area yang luas dan menurunkan kualitas udara hingga jauh dari sumbernya.
Kegagalan Bendungan
Kegagalan tailings dam adalah peristiwa yang sangat merusak lingkungan. Kegagalan ini dapat melepaskan jutaan ton limbah beracun ke lingkungan, menyebabkan kerusakan langsung dan jangka panjang. Contoh nyata adalah bencana bendungan Brumadinho pada 2019 di Brasil, di mana runtuhnya tailings dam mengakibatkan pelepasan lumpur beracun yang menewaskan lebih dari 270 orang, menghancurkan habitat, dan mencemari sungai hingga bermil-mil jauhnya. Peristiwa ini menekankan pentingnya desain, pemeliharaan, dan pemantauan bendungan yang kuat untuk mencegah bencana serupa.

Substansi Berbahaya dalam Tailings Tambang
Logam Berat:
Tailings tambang mengandung logam berat seperti arsenik, timbal, dan merkuri yang beracun bagi manusia dan lingkungan. Arsenik dapat menyebabkan kanker, timbal merusak sistem saraf, dan merkuri memengaruhi kemampuan kognitif dan motorik. Dampaknya pada kesehatan dan ekosistem membutuhkan perhatian serius.
Sianida:
Sianida digunakan dalam pengolahan emas dan sangat beracun bahkan pada konsentrasi rendah. Pengelolaannya yang tidak tepat dapat mencemari air dan membahayakan ekosistem. Oleh karena itu, cyanide memerlukan kontrol ketat dan perencanaan respons darurat.
Air Asam Tambang (AAT):
AAT terjadi saat mineral sulfida dalam tailings bereaksi dengan air dan oksigen, menghasilkan asam sulfat yang mencemari air dan merusak ekosistem akuatik. AAT dapat bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun, memerlukan pengelolaan jangka panjang untuk mitigasi dampaknya.
Substansi Berbahaya dalam Tailings Tambang
Logam Berat:
Tailings tambang mengandung logam berat seperti arsenik, timbal, dan merkuri yang beracun bagi manusia dan lingkungan. Arsenik dapat menyebabkan kanker, timbal merusak sistem saraf, dan merkuri memengaruhi kemampuan kognitif dan motorik. Dampaknya pada kesehatan dan ekosistem membutuhkan perhatian serius.
Sianida:
Sianida digunakan dalam pengolahan emas dan sangat beracun bahkan pada konsentrasi rendah. Pengelolaannya yang tidak tepat dapat mencemari air dan membahayakan ekosistem. Oleh karena itu, cyanide memerlukan kontrol ketat dan perencanaan respons darurat.
Air Asam Tambang (AAT):
AAT terjadi saat mineral sulfida dalam tailings bereaksi dengan air dan oksigen, menghasilkan asam sulfat yang mencemari air dan merusak ekosistem akuatik. AAT dapat bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun, memerlukan pengelolaan jangka panjang untuk mitigasi dampaknya.
Referensi:
https://repositori.uin-alauddin.ac.id/14106/1/Limbah%20Tailing%20dan%20Efeknya%20Terhadap%20Kesehatan%20Masyarakat.pdf
https://greennetwork.id/kabar/petaka-perizinan-pembuangan-limbah-tambang-ke-laut-dalam/
https://transformative.ub.ac.id/index.php/jtr/article/view/177
https://ejurnal.its.ac.id/index.php/teknik/article/viewFile/94358/7185
https://www.jouav.com/blog/mine-tailings.html#jouav-scrollspy-anchor-0